Powered By Blogger

08 Mei 2009

Pasir dan Karang



Di sebuah pantai, tampak dua orang anak manusia yang saling bersahabat sedang bermain-main bersama. Mereka awalnya saling bercanda, bermain pasir, dan berlari-larian. Lama-kelamaan, mereka saling mengejek, hingga salah satu anak menjadi marah dan kemudian ia memukul temannya yang mengejek tadi. Si anak yang dipukul kemudian terdiam. Dan dengan mata yang berkaca-kaca, ia mengambil sebilang ranting di sekitar pantai dan kemudian menulis sesuatu di atas pasir.

“Hari ini temanku telah memukul aku…”


Si anak yang memukul melihat apa yang dilakukan temannya. Ia pun menjadi malu dan hanya bisa menundukkan kepala, sedangkan anak yang dipukul kembali terdiam.
Layaknya orang yang sedang marahan, mereka berdua saling mendiamkan satu sama lain. Lalu, si anak yang dipukul berjalan pergi menjauh dari temannya yang telah memukulnya tadi. Tetapi anak yang memukul pun tak tahu harus berbuat apa, maka ia pun tetap berdiri di tempatnya. Anak yang dipukul terus berjalan dan berjalan, menjauhi pantai, tanpa menyadari bahwa di depannya ada sebuah lubang pasir untuk perangkap binatang yang cukup dalam. Ia terperosok ke dalam lubang tersebut dan spontan berteriak, “Aduh! Tolong! Tolong aku!”
Si anak yang memukul tadi pun menoleh dan melihat temannya terperosok ke dalam lubang. Ia segera berlari mendekati temannya dan mengulurkan tangannya ke arah anak itu. “Ayo pegang tanganku, nanti aku akan menarikmu!”, ujarnya.
Si anak yang dipukul tadi pun memegang tangan temannya, dan temannya menariknya hingga keluar dari lubang. Ia bernafas lega. Dan dengan mata yang (lagi-lagi) berkaca-kaca, ia berkata, “Terima kasih ya..”, dan sang teman pun tersenyum. Ia lalu memungut sebuah batu kecil yang tajam lalu berlari mencari karang di tepi pantai tersebut. Ia menggoreskan sesuatu.

“Hari ini temanku telah menolong aku…”



Si anak yang tadi memukul pun tersipu. Tetapi melihat kelakuan aneh temannya, ia lalu bertanya. “Kenapa tadi kamu menulis aku telah memukulmu di atas pasir, tapi sekarang kamu menulis aku telah menolongmu di batu karang?”
Temannya hanya tersenyum menatapnya, tapi kemudian menjawab.
“Karena aku ingin segera menghapus perasaan benciku terhadapmu sewaktu kamu memukulku, seperti tulisan di atas pasir itu yang akan segera hilang oleh debur ombak…
Dan supaya aku selalu ingat, bahwa aku punya sahabat yang sangat baik yang telah menolongku, karena tulisan di batu karang ini tidak akan hilang...”
Maka si anak yang tadi memukul pun merasa menyesal ia telah memukul sahabatnya. Ia merangkul sahabatnya dan meminta maaf seraya berkata,
“Terima kasih sahabatku…aku pasti beruntung sekali karena mempunyai seorang sahabat sepertimu...”

(untuk sahabat2ku, aku juga... ^^)


sumber: AndrieWongso's motivation book

Tidak ada komentar: